Selasa, 02 Juli 2019


MENSYUKURI NIKMAT HUJAN DAN SENJA
DIPENGHUJUNG HARI
Oleh: S. Pelu



Hai... ini ceritaku tentang hujan dan senja. jika disuruh untuk memilih antara keduanya, aku bingung. Sama halnya tentang kamu. Kamu yang bingung harus kembali atau terus berjalan sendiri. Kamu tahu, aku menulis ini di sela-sela jam kantor diiringi derasnya air hujan yang membasahi atap gedung Kantorku. Iya, bahkan saat kerja, aku tetap memikirkan ini tentang Hujan. Bulirnya yang basahi bumi, seolah mengajarkan kita untuk terus tabah. Tabah dalam memberi karena memberi bisa hilang bagai tak berarti. Tabah dalam memberi karena dari memberi kita belajar keikhlasan. Ku pikir tanah tahu seberapa banyak tandus yang hilang saat hujan turun. Apa kamu mau memberiarkan tumbuhan di belantara hutan yang begitu indah menjadi kering? Atau Ada gitu yang mau nyiramin satu-satu pohonnya? Enggak kan? Nah, hujan adalah keikhlasan. Keikhlasan karena ia mendukung aksara tergelincir dari lisan sang empunya, seolah terus menerus menjatuhkan bulir kenyataan dan repetisi dari hal hal yang tak mungkin kembali. Apa kamu bisa menjadi hujan? Kenangan saja terus kamu putar di kepala tanpa pernah berakhir. Tanpa pernah menghilang sewajarnya setelah sejenak menghidupi jiwa. Tanpa pernah selesai, kamu teguk beribu kenangan hanya untuk hilangkan dahaga. Tidak! Kamu tidak bisa menjadi hujan! Ah, apa mungkin kamu senja?.
Hujan mengingatkan saya tentang kesabaran, Kala itu ketika saya sedang berdiri di depan jalan menuju kantor dan saya percaya bahwa setiap hujan yang turun, akan mengeluarkan lagu tersendiri bagi orang yang sedang merindu dan hujan turun sekan-akan memberikan anugrah untuk kelangsungan Hidup banyak orang dalam Kebutuhan Hidup Manusia.diantaranya  dari sektor Pertanian,Sumber Energi Pembangkit Listrik, Air Minum dan Kelangsungan Hidup Hutan. Hujan juga memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi kelngsungan banyak orang, Di balik dampak negatif yang diakibatkan air hujan, ternyata mesti diakui ada sisi dan manfaat positif dari curah hujan. Penegasan perihal fakta tentang manfaat air hujan ini, antara lain, bahkan ditegaskan langsung dalam Alquran. Ini merujuk pada surah al-Furqan ayat 48 yang Artinya "Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan air yang amat bersih dari langit."
Sedangkan yang saya kutip menurut Para ilmuwan menjelaskan air hujan adalah tetesan air hasil penyulingan yang dibuat oleh Allah SWT atau al-ma' al-muqthir. Air hujan menjadi pembersih dan pembasmi kotoran terbaik yang mampu mensterilkan bumi yang tercemar. Proses jatuhnya air hujan pun cukup rumit. Bahkan, jika dibandingkan dengan penelitian ilmuwan mengenai air jernih, air yang paling baik untuk membersihkan adalah dari air hujan.
Sedangkan Tentang Senja Merah kuning yang membara, tetapi tetap santun. Semangat yang berapi api, tetapi seolah teredam. Senja yang muncul sebentar untuk menghangatkan. Sekilas menawarkan ketenangan. Lalu sedetik kemudian dilibas oleh kelam menuju malam. Gelaplah cakrawala, tanpa sisakan nyala. Paham tidak? Senja adalah jeda singkat. Di sekian nama tak berarti, yang tak menetap, tetapi sempat lewat meski bukan berarti terlewat. Nama nama itu tetap ada. Di tempatnya yang semula. Itulah senja. Ia mengajarkan kita agar menghargai sesuatu yang hanya sekejap. Untuk kemudian kembali pada nyata, melanjutkan apa yang ada. Kamu senja? Ah, rasanya tidak! Pernah kan, suatu waktu di tepian hari, kamu lupa pada kita yang tak jadi ada? Kamu tidak akan pernah menjadi senja, maupun seperti burung Yang selalu berkelana mencari langit yang lain, atau yang mungkin. Nah, sekarang paham tidak? Kenapa Hujan dan Senja begitu berarti untuk segala inspirasi? Atau Masih gak paham juga? hmmmm Kamu sih,tidak pernah menjadi aku, untuk melihat hujan dan senja sebagaimana mestinya. Kamu tidak pernah menjadi aku, untuk memaknai tulus arti kehadiran hujan dan senja. Kamu memang tidak bisa menjadi hujan dan senja, karena tak bisa ikhlas dan menghargai, terhadap apa yang pernah ada. Kadang orang biasa mengeluh, ketika terjadi hujan dan sedihnya lagi, mereka tidak mensyukuri nikmat yang diberikan tuhan itu, padahal kalau mau di kaji bahwasnya hujan dan senja itu anugrah, tetapi apakah masih ada yang mensyukuri nikmat dan anugrah itu? Hmmm tidak. Banyak rintihan kekesalan yang sering saya dengarkan dari banyak orang ketika selalu turunya hujan, dan yang mereka pikirkan hujan hanyalah penghalang bagi mereka untuk melakukan segala aktifitas dan akupun tau apa yang mereka rasakan, kekecewaan atas kenyataan pahit yang belum bisa mereka relakan ketika turunya hujan. Akpun sempat merasakan sebuah kekecewaan, dan akupun juga pernah mengalami betapa pahitnya ketika turunya hujan.  Namun aku tidak terlalu mempermasalhkan hal itu, karna dalam benaku itu adalah anugrah dan siklus alam yang tidak bisa terelakkan. Dan yang hanya mereka ingginkan hanyalah senja, tapi apakaha kita mengharapakna senja?  Senja hanya menawarkan keindahan sesaat namun sekejab menghilang, yang tersisa hanyalah kegelapan yang tak selalu memberikan ketentraman. Aku pikir bahwa dengan melihat senja, aku ingin melepaskan semua beban dalam dada dan menenggelamkannya bersama sinar jingga. Namun nyatanya rasa ini tak pernah bisa menghilang begitu saja. “Dimana ada hujan di situ ada Senja, Hujan dan senja tindak akan terpisahkan ibaratkan pasangan kekasih yang saling mengisi, menurut saya Hujan dan senja selalu memberikan kenikmatan yang hakiki terhadap diri saya, entak apakaha sabliknya juga yang di rasakan orang, Namun Hujan dan Senja Tak akan pernah terpisahkan”.