MENSYUKURI
NIKMAT HUJAN DAN SENJA
DIPENGHUJUNG
HARI
Oleh:
S. Pelu
Hai... ini ceritaku tentang
hujan dan senja. jika disuruh untuk memilih antara keduanya, aku bingung. Sama
halnya tentang kamu. Kamu yang bingung harus kembali atau terus berjalan
sendiri. Kamu tahu, aku menulis ini di sela-sela jam kantor diiringi derasnya
air hujan yang membasahi atap gedung Kantorku. Iya, bahkan saat kerja, aku
tetap memikirkan ini tentang Hujan. Bulirnya yang
basahi bumi, seolah mengajarkan kita untuk terus tabah. Tabah dalam memberi
karena memberi bisa hilang bagai tak berarti. Tabah dalam memberi karena dari
memberi kita belajar keikhlasan. Ku pikir tanah tahu
seberapa banyak tandus yang hilang saat hujan turun. Apa kamu mau memberiarkan tumbuhan
di belantara hutan yang begitu indah menjadi kering? Atau Ada gitu yang mau
nyiramin satu-satu pohonnya? Enggak kan? Nah, hujan adalah keikhlasan. Keikhlasan karena ia mendukung
aksara tergelincir dari lisan sang empunya, seolah terus menerus menjatuhkan
bulir kenyataan dan repetisi dari hal hal yang tak mungkin kembali. Apa kamu bisa menjadi
hujan? Kenangan saja terus kamu putar di kepala tanpa pernah berakhir.
Tanpa pernah menghilang sewajarnya setelah sejenak menghidupi jiwa. Tanpa
pernah selesai, kamu teguk beribu kenangan hanya untuk hilangkan dahaga. Tidak! Kamu tidak bisa
menjadi hujan! Ah, apa mungkin kamu
senja?.
Hujan mengingatkan saya tentang kesabaran, Kala itu ketika saya sedang
berdiri di depan jalan menuju kantor dan saya percaya bahwa
setiap hujan yang turun, akan mengeluarkan lagu tersendiri bagi orang yang
sedang merindu dan hujan turun sekan-akan memberikan anugrah untuk kelangsungan
Hidup banyak orang dalam Kebutuhan Hidup Manusia.diantaranya dari sektor Pertanian,Sumber Energi Pembangkit
Listrik, Air Minum dan Kelangsungan
Hidup Hutan. Hujan juga memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi
kelngsungan banyak orang, Di balik dampak negatif yang diakibatkan air hujan,
ternyata mesti diakui ada sisi dan manfaat positif dari curah hujan. Penegasan
perihal fakta tentang manfaat air hujan ini, antara lain, bahkan ditegaskan
langsung dalam Alquran. Ini merujuk pada surah al-Furqan ayat 48 yang Artinya "Dialah yang meniupkan angin
(sebagai) pembawa kabar gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan).
Kami turunkan air yang amat bersih dari langit."
Sedangkan
yang saya kutip menurut Para ilmuwan menjelaskan air hujan adalah tetesan air
hasil penyulingan yang dibuat oleh Allah SWT atau al-ma' al-muqthir. Air hujan
menjadi pembersih dan pembasmi kotoran terbaik yang mampu mensterilkan bumi
yang tercemar. Proses jatuhnya air hujan pun cukup rumit. Bahkan, jika
dibandingkan dengan penelitian ilmuwan mengenai air jernih, air yang paling
baik untuk membersihkan adalah dari air hujan.
Sedangkan Tentang Senja Merah
kuning yang membara, tetapi tetap santun. Semangat yang berapi api, tetapi
seolah teredam. Senja yang muncul sebentar untuk menghangatkan. Sekilas
menawarkan ketenangan. Lalu sedetik kemudian dilibas oleh kelam menuju malam.
Gelaplah cakrawala, tanpa sisakan nyala. Paham tidak? Senja
adalah jeda singkat. Di sekian nama tak berarti, yang tak menetap, tetapi sempat lewat meski
bukan berarti terlewat. Nama
nama itu tetap ada. Di tempatnya yang semula. Itulah senja. Ia mengajarkan kita
agar menghargai sesuatu yang hanya sekejap. Untuk kemudian kembali pada nyata,
melanjutkan apa yang ada. Kamu senja? Ah, rasanya tidak! Pernah kan, suatu waktu
di tepian hari, kamu lupa pada kita yang tak jadi ada? Kamu
tidak akan pernah menjadi senja, maupun seperti burung Yang selalu
berkelana mencari
langit yang lain, atau yang mungkin. Nah, sekarang paham tidak? Kenapa
Hujan dan Senja begitu berarti untuk segala inspirasi? Atau Masih gak paham juga? hmmmm Kamu
sih,tidak pernah menjadi aku, untuk melihat hujan dan senja
sebagaimana mestinya. Kamu tidak pernah menjadi aku, untuk memaknai tulus arti
kehadiran hujan dan senja. Kamu memang tidak bisa menjadi hujan dan senja,
karena tak bisa ikhlas dan menghargai, terhadap apa yang pernah ada. Kadang orang
biasa mengeluh, ketika terjadi hujan dan sedihnya lagi, mereka tidak mensyukuri
nikmat yang diberikan tuhan itu, padahal kalau mau di kaji bahwasnya hujan dan
senja itu anugrah, tetapi apakah masih ada yang mensyukuri nikmat dan anugrah
itu? Hmmm tidak. Banyak rintihan kekesalan yang sering saya dengarkan dari
banyak orang ketika selalu turunya hujan, dan yang mereka pikirkan hujan
hanyalah penghalang bagi mereka untuk melakukan segala aktifitas dan akupun tau
apa yang mereka rasakan, kekecewaan atas kenyataan pahit yang belum bisa mereka
relakan ketika turunya hujan. Akpun sempat merasakan sebuah kekecewaan, dan akupun
juga pernah mengalami betapa pahitnya ketika turunya hujan. Namun aku tidak terlalu mempermasalhkan hal
itu, karna dalam benaku itu adalah anugrah dan siklus alam yang tidak bisa
terelakkan. Dan yang hanya mereka ingginkan hanyalah senja, tapi apakaha kita
mengharapakna senja? Senja hanya
menawarkan keindahan sesaat namun sekejab menghilang, yang tersisa hanyalah
kegelapan yang tak selalu memberikan ketentraman. Aku pikir bahwa dengan
melihat senja, aku ingin melepaskan semua beban dalam dada dan
menenggelamkannya bersama sinar jingga. Namun nyatanya rasa ini tak pernah bisa
menghilang begitu saja. “Dimana ada hujan
di situ ada Senja, Hujan dan senja tindak akan terpisahkan ibaratkan pasangan
kekasih yang saling mengisi, menurut saya Hujan dan senja selalu memberikan
kenikmatan yang hakiki terhadap diri saya, entak apakaha sabliknya juga yang di
rasakan orang, Namun Hujan dan Senja Tak akan pernah terpisahkan”.
